Kajian Online Medan

Ustadz Nuruddin Bukhori – Lanjutan Syarah Hadist Arbain Nawawi Hadist Ke 18

  • Lanjutan Syarah Arbain Nawawi Hadist ke 18

    1

Lanjutan Syarah Arbain Nawawi Hadistke 18 bersama Ustadz Nuruddin Bukhori dari Masjid Baiturrahman Unimed Medan Estate/Pancing Ahad 07 Rabi’ul Akhir 1437 H / 17.01.2016

 

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا

عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “

 

[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

 

  • Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu’anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih. Hasan dikeluarkan oleh At Tirmidzi di dalam [Al Bir Wash Shilah/1987] dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Al Misykat [5083])

 

Didalam hadist ini mengandung hal-hal besar didalam agama, diantaranya akhlak yang baik.

Nabi bersabda Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada.

 

Takwa kepada Allah merupakan wasiat ter-agung, dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam dalam banyak hadist  berwasiat kepada manusia agar bertakwa kepada Allah. dan wasiat takwa adalah wasiat yang Allah wasiatkan kepada seluruh generasi ummat.

 

Terdapat dalam Firman Allah Surat An Nisa Ayat 131.

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ وَكانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيداً  

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.
Dan selalu kita dengar ketika Nabi mengawali hajat ataupun wejangan maka rasululloh membacakan beberapa ayat tentang takwa diantaranya dalam surah Al Imron

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepadaNya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali imron: 102)

Ini menunjukkan pentingnya wasiat taqwa kepada Allah.

Yang dimaksud dengan Taqwa diantaranya, para Ulama telah menjelaskan beberapa pengertian tentang taqwa yang satu sama lain saling melengkapi.

Thalaq bin Habib Rahimahulloh menjelaskan tentang pengertian taqwa yang memiliki pengertian paling sempurna dan mewakili pengertian yang disebutkan oleh para ulama yang disampaikan oleh beliau rahimahulloh yaitu : “Engkau melakukan ketaatan kepada Allah (baik perkara yang wajib maupun sunnah), diatas cahaya dari Allah ( atas dasar Ilmu), kemudian engkau harapkan padanya pahala dari Allah (ikhlas mengharap wajah Allah). Kemudian engkau meninggalkan maksiat kepada Allah (baik haram maupun yang makruh) diatas cahaya dari Allah (atas dasar Ilmu), kemudian engkau meninggalkannya karena takut kepada Allah”.

Nabi mengatakan “takwa kepada Allah dimanapun engkau berada) ini mengandung pengertian bertakwa baik dalam keadaan bersama orang-orang maupun disaat bersendirian. Karena banyak diantara kita memiliki sifat sama seperti sifat yang dimiliki oleh orang-orang munafikin, yang disaat mereka bersama-sama dengan manusia mereka bertaqwa namun ketika mereka sendirian mereka meninggalkan perintah Allah dan kembali bermaksiat.

 

Allah menjelaskan sifat orang munafikin, didalam firman Allah surah An Nisa ayat 108.

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا
mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.

As Syaikh Al Imam Abdurrahman An Nasir As Sa’di menjelaskan dihadapan manusia mereka berbuat baik dan tidak berani melakukan maksiat akan tetapi ketika mereka bersendirian mereka melanggar itu semua, dan ini tanda lemahnya iman, sebagian manusia rasa takutnya kepada manusia lebih besar dibanding rasa takutnya mereka kepada Allah. Maka mereka berusaha melakukan dengan cara-cara yang mubah maupun yang haram agar keburukan mereka tidak diketahui manusia, namun disisi lain mereka menantang Allah dengan melakukan dosa-dosa besar, dan mereka tidak lagi memperhatikan bahwa Allah selalu melihat mereka, padahal Allah selalu berada bersama mereka dimanapun mereka berada.

Jika masih ada dalam diri kita seperti sifat yang diatas berarti masih adanya sifat kaum munafikin didalam diri kita. Bahkan para ulama salaf menjelaskan orang yang baik itu adalah orang yang tatkala ia bersendirian itu lebih baik dibanding ketika bersama manusia.

Orang yang bertakwa kepada Allah akan Allah berikan kepadanya kebaikan dunia dan akhirat, Allah mengatakan

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتي‏ نُورِثُ مِنْ عِبادِنا مَنْ كانَ تَقِيًّا َ
Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.(Qs Maryam :63)

dan dialam surah At Thalaq Allah berfirman

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).

Maka dari itu wasiat takwa adalah wasiat yang paling utama yang disampaikan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi banyak dari kita mendengar wasiat tentang takwa tetapi sulit bagi kita untuk mengamalkannya, itu karena banyak diantara kita menganggap pandangan Allah adalah pandangan yang paling lemah,

Abu Sulaiman dinukil oleh imam Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan orang yang merugi adalah orang yang selalu menampakkan amal-amal soleh dihadapan manusia akan tetapi menantang Allah dengan maksiat yang dia lakukan padahal Allah lebih mengetahui dan lebih dekat dengannya dibanding urat lehernya sendiri.

 

 

Kemudian Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

“Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya”.

Yaitu jika engkau melakukan kesalahan maka segeralah engkau melakukan kebaikan. Tapi ingat sebaik apapun manusia, setinggi apapun ilmunya, sebanyak apapun amalannya, akan tetapi tidak ada satu pun manusia yang terbebas dari kesalahan. Maka dari itu berusahalah sekuat tenaga untuk tetap berbuat kebaikan. Jikalau kita menghitung-hitung  amal manusia maka tidak ada satupun manusia yang terbebas dari kesalahan sekalipun guru kita yang paling kita hormati sekalipun pernah berbuat kesalahan. Karena tidak ada yang maksum kecuali para Nabi dan Rasul.
Abdullah bin mas’ud radiallahuanhu mengatakan, datanglah kepada nabi seorang lelaki, yang dia telah melakukan maksiat berupa mencium seorang wanita yang bukan mahramnya, lalu dia menyampaikan hal tersebut kepada rasululloh.

Rasululloh kemudian diam sampai Abdullah bin Mas’ud berkata maka turunlah firman Allah surah Hud ayat 114.

وَأَقِمْ الصَّلاةَ طَرَفِي النَّهَارِ وَزُلَفاً مِنْ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS. Hud : 114)

Lalu kemudian lelaki ini berkata, ya rasululloh apa ini hanya untukku saja. Maka rasululloh berkata, ini untuk semua ummatku.

 

Sebagian ulama mengatakan kata الْحَسَنَةَ (Hasanat) dalam hadist diatas memiliki pengertian taubat.

Maka jika kita mengambil pengertian ini maka kaidahnya jika kita melakukan kesalahan, maka kesalahan itu tidak bisa dihapus kecuali dengan taubat.
Allah berfirman dalam surah Al Furqon Ayat 70

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan Hasanat (kebaikan). (QS Al Furqon:70
Tentunya dalam hal ini taubat yang dimaksud adalah taubat nasuha.

 

Pendapat yang kedua, ini jauh lebih umum dari sekedar taubat.

Hal ini sudah disepakati bahwasannya Orang yang taubat dari maksiat sama dengan orang yang tidak melakukan maksiat.

 

Banyak ulama mengatakan banyak kebaikan yang dapat menghapus keburukan yang dilakukan, diantaranya terdapat dalam hadist Abu Hurairah Radiallahuanhu yang berkata :

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang mendorong Allah menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Kemudian, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, 
“Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak ia sukai, memperbanyak langkah menuju masjid dan menunggu shalat setelah shalat. Yang demikian itu adalah ribath, yang demikian itu adalah ribath, dan yang demikian itu adalah ribath (pengekangan diri untuk selalu melaksanakan ketaatan).”
Dalam hadist yang lain rasululloh mengatakan barang siapa yang mengatakan
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

sebanyak 100 kali maka itu sama seperti memerdekakan 100 budak, dan dihapuskan darinya 100 dosa, dan dan ini menjadi benteng dirinya dari setan dari pagi sampai sore hari.

 

Amalan yang lain yang dapat menghapuskan dosa yaitu terdapat pada hadist berikut:
“Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya. Lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya hingga ke siku tiga kali, begitupula dengan tangan kirinya. Setelah itu, ia usap kepalanya lantas membasuh kaki kanannya hingga ke mata kaki tiga kali, begitupula dengan kaki kirinya. Dia kemudian berkata, ‘Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua raka’at dan tidak berkata-kata dalam hati [1] dalam kedua raka’at tadi, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.’”

 

Dan banyak amalan-amalan yang dapat menghapus dosa-dosa kita diantaranya puasa arafah, puasa daud, diantara dua jum’at, diantara dua umroh, dansebagainya.

Maka dari itu pengertian nya lebih luas dibanding hanya sekedar taubat. Dalam hal ini yang lebih rajih adalah pendapat yang kedua yaitu amal shalih yang kita lakukan dapat menghapus dosa-dosa kecil.

Untuk dosa besar terdapat dalam hadist lain menjelaskan bahwa hukuman (had) dapat menghapuskan dosa seorang yang melakukan maksiat (dosa besar).

berkata Ubadah bin Ash Shamit; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membaiat kami sebagaimana beliau Shallallahu’alaihiwasallam membaiat para wanita dengan tujuh hal, (yaitu):  janganlah berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, janganlah mencuri, janganlah berzina, janganlah membunuh anak-anak kalian, dan janganlah sebagian dari kalian memutus hubungan dengan sebagian yang lain, janganlah bermaksiat (membangkang) kepadaku dalam kebaikan, dan barang siapa diantara kalian yang melanggar had (hukuman) lalu disegerakan hukuman tersebut kepadanya maka yang demikian itu sebagai kafarat (penghapus dosa) baginya, dan jika hukuman tersebut ditangguhkan darinya maka urusannya kembali kepada Allah, jika Allah berkehendak maka akan mengadzabnya dan jika berkehendak maka akan merahmatinya”. (HR. Bukhori)

 

Selanjutnya nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang mulia.

Pesan yang tidak pernah ketakwaan itu sempurna kecuali kita harus melakukannya yaitu Husnul Khulq ( Akhlaq yang baik)
Allah berfirman dalam surah al imron ayat 133-134.
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron [3] : 133-134)
Rasululloh dalam benyak hadit menjelaskan tentang kedudukan akhlak yang baik.
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Trimidzi, dan Al-Hakim).

“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik diantara mereka akhlaknya.” (HR Tirmidzi, ia berkata: hadis hasan shahih)

Aisyah Radiallahu anha mengatakan dalam riwayat Abu daud, Sesungguhnya seorang mukmin kadangkala disurga bisa mencapai tingkatan yang sama dengan orang yang banyak puasa dan shalat malamnya dengan akhlaknya yang baik.

Rasululloh mengatakan “tidak ada yang diletakkan dalam timbangan seorang muslim lebih berat timbangannya dibanding akhlak yangbaik”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallohu alaihi wasallam ditanya tentang apa penyebab terbanyak manusia masuk surga? Nabi menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Rasulullahshollallohu alaihi wasallam juga ditanya tentang apa penyebab terbanyak manusia masuk neraka?Nabi menjawab: ” mulut dan kemaluan”(HR at-Turmudzi ia mengatakan hadis sahih).
Kadangkala kita dapati banyak diantara kaum muslimin yang jauh dari kesyirikan, akan tetapi akhlaknya kurang baik. Rasululloh shallallahu alaihi wasallam mengatakan, jangan engkau remehkan kebaikan sekecil apapun kepada orang lain.

Imam Hasan al Bashri Rahimahulloh mengatakan, akhlak yang baik itu dalah kedermawanan, selalu berkorban, dan selalu berlapang dada.

Coba perhatikan ketika rasululloh marah kepada Muadz bin Jabal rahimahulloh yang mengimami manusia ketika shalat Isya dengan bacaan ayat yang panjang, marahnya rasululloh dalam hal ini adalah marah yang terpuji karena berkaitan dengan masalah syariat.

Namun ketika Aisyah radiallahuanha memukul tangan seorang budak yang memberikan makanan kepada rasululloh ketika berada di rumah aisyah hingga bejana tersebut pecah , rasululloh tidak marah dan hanya mengatakan “Ibu kalian cemburu”.

Akhlak yang baik kata rasululloh shallallahu alaihi wasallam adalah bermuka ceria.

Akhlak yang baik itu selalu memberikan kebaikan dan menahan kejahatan.

Imam Ahmad mengatakan “Akhlak yang baik itu engkau tidak marah dan engkau tidak dengki”.

Maka dalam hal urusan dunia yang rendah dan hina kita tidak perlu marah.

Dengan akhlak yang baik itu semoga Allah memberikan kita pahala yang sangat besar dan derajat yang tinggi di dunia dan diakhirat kelak.