Kajian Online Medan

Ustadz Arif – Hakikat Kehidupan Dunia

Kajian Umum bersama Ustadz Arif dengan Judul pembahasan “ Hakikat Kehidupan Dunia”
Dari Masjid Baiturrahman Komplek Kampus Unimed, Medan Estate/Pancing Ahad 23 Rabi’ul Awwal 1437 H / 03.01.2016

 

Suatu keburukan yang tidak kita ketahui hakikatnya biasanya kita akan menyukainya, begitu pula sebaliknya. Ketika kita tidak mengetahui hakikat kehidupan dunia ini maka kita semakin mencintai dunia ini, berlomba-lomba sampai kita lupa akan akhirat. Maka dari itu kita mesti mengetahui hakikat kehidupan dunia ini.

Maka hakikat dari kehidupan dunia ini adalah sebagai berikut:

-||- Hakikat yang pertama. Kehidupan dunia ini sangat melelahkan.

Ada seseorang yang bekerja dari pagi hingga sore hanya mendapatkan sedikit penghasilan, maka seorang muslim hendaklah sadar bahwa kehidupan dunia ini adalah kehidupan yang sangatlah melelahkan, hingga dia mencukupkan diri untuk capek di dunia ini saja dan tidak di akhirat disebabkan dia disiksa oleh Allah di neraka.

 

Allah subhanahu waTa’ala berfirman memberitahukan kepada kita untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
(at-Tahrîm/66:6)

 

Kalau kita melihat orang kafir di kehidupan dunia ini yang berletih -letih di kehidupan dunia ini, namun diakhirat kelak mereka akan dimasukkan Allah kedalam api yang menyala-nyala, di dunia ini mereka banyak bersedekah dan sebagainya namun segala sesuatu yang mereka kerjakan tidak ada nilainya disisi Allah, karena mereka menganut agama yang tidak di ridhoi Allah.

 

Allah berfirman,

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (١) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (٢) عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (٣) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (٤) تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ (٥) لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلا مِنْ ضَرِيعٍ (٦) لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ (٧
Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari Kiamat |Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina | ,(karena) bekerja keras lagi kepayahan |, Mereka memasuki api yang sangat panas (neraka) |, Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas |. Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri |, Yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar. (Al-Ghosiyyah/1-7)

 

Mencintai dunia yang berlebihan dapat mendatangkan berbagai macam penyakit dan musibah.

Salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam musibah (penderitaan)“.

 

-||- Hakikat yang ke -2 . Dunia ini adalah sesuatu yang memabukkan.

Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah pernah mengatakan ” Pecinta dunia itu seperti peminum khamr”, sebagaimana dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga“

Seorang Salaf berkata, “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kegelisahan (pikiran) yang selalu menyertainya, kesulitan yang tiada henti, dan kerugian yang tiada habisnya.

 

-||- Hakikat yang ke -3. Dunia ini hanyalah sementara.

Pergunakanlah waktu luangmu untuk rukuk, berapa banyak orang yang sehat namun keesokan harinya telah tiada.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman : 26-27)

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Usia umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit dari mereka yang melampauinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

 

Berapa banyak orang yang meninggal di usia muda, bisa saja salah seorang dari kita sesaat lagi meninggalkan dunia ini.

dan hendaklah kita menjadi orang yang memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

 

Ada seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” baginda menjawab: “Orang yang paling panjang umurnya dan baik amalannya” (Hadis Sahih Riwayat At Tirmidzi, Ahmad, (Shahih Targhib wat Tarhib no. 3363)

 

-||- Hakikat yang ke -4 Dunia ini sangat hina disisi Allah Subhanahu wata’ala.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang [para sahabat] menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata, “Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”. Mereka menjawab, “Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”. Beliau kembali bertanya, “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?” Beliau pun bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.”

 

dan dalam hadist yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

 

-||- Hakikat yang ke -5. Dunia ini adalah senda gurau belaka, layaknya permainan.

Allah berfirman

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahuinya.” (QS. Al Ankabut 64)

 

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

‘Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak seperti seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (QS. Al Hadid 21)

Oleh sebab itu sikapilah dunia ini ibarat permainan pula. dan jangan terlalu berlebihan dalam mencintai dunia.

 

-||- Hakikat yang ke 6. Dunia ini sangat menipu.

Kita lihat di pasar, banyak pedagang yang mengurangi timbangan.
padahal Allah telah berfirman

 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُور

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

 

-||- Hakikat yang ke-7. Dunia ini tidak stabil pada satu kondisi.

Yang tadinya kaya mungkin besoknya menjadi miskin, yang ketika pagi bahagia pada sore harinya menjadi sedih, yang tadinya muda akan menjadi tua, dan kehidupan dunia ini akan selalu berputar menyesuaikan proses perjalanan kehidupan.

 

Allah berfirman

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ (١٩٠

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran: 190)

 

Maka sikap kita yang seharusnya terhadap dunia adalah sebagai berikut :

-||- Jadikan dunia ini sebagai perantara untuk kehidupan yang lebih kekal yaitu negri Akhirat.

Nabi pernah berdoa’ kepada Allah agar jangan dijadikan dunia ini sebesar-besarnya pengharapan.

 

Allah berfirman

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ 
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan”. (QS. Ali Imran: 185)

 

ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا؛ فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَل
“Dunia berjalan meninggalkan kita dan akhirat berjalan menghampiri kita. Masing-masing memiliki anak. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah menjadi anak-anak dunia. Hari ini adalah waktu beramal bukan pembalasan, dan kelak adalah hari pembalasan dan tidak ada kesempatan untuk beramal”.HR.Bukhori

 

-||- Berlomba-lombalah untuk kehidupan akhirat dan jangan tertipu dengan dunia

Allah berfirman

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi’ (QS. Al Hadid: 21)
-||- Jangan sampai kita berebut hanya sebab dunia.

 

Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“Maka demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan kepada kamu akan tetapi yang aku takutkan adalah bahwa dunia akan dilapangkan untuk kamu sebagaimana ia telah diluaskan kepada orang-orang yang sebelum kamu, maka kamu akan berlomba-lomba untuknya sebagaimana mereka (para pendahulu tersebut) berlomba-lomba, lalu ia akan menghancurkan kamu sebagaimana ia telah menghancurkan mereka.” (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majjah dari ‘Amru bin ‘Auf Al Anshari).

 

Oleh sebab itu janganlah sampai kita berebut hanya karena masalah dunia .  Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda “Sesungguhnya Allah Ta’ala membagi akhlak (yang terpuji) kepada kalian, sebagaimana Allah membagi rezeki kepada kalian” (H.R Bukhari dalam Adabul Mufrad).