Kajian Online Medan

Talkshow “Halalnya MUSIK” bersama Ustadz Ali Nur, Lc dan Mantan Musisi (MadMor)

  • TalkShow Halalnya Musik

    1
Talkshow “Halalnya MUSIK”
Bersama Ustadz ALi Nur, Lc
dan Mantan Musisi (MadMor)
 
dari Masjid Al Jihad Jalan Abdullah Lubis, Medan
Sabtu , 16 Rajab 1437, 23 April 2016.
 
Musik menjadi tambatan hati bagi sebagian besar kaum muslimin terutama anak-anak muda menjadi cara mereka untuk mengungkapkan ekspresi menjadi obat bagi kegalauan dan menjadi seperti jalan keluar bagi mereka untuk menyelesaikan masalah hidup.
Sebenarnya musik ini disinggung gak sih di dalam syariat islam, dan bagaimana pandangan syariat terhadap musik?
Ketika kita melihat suatu permasalahan dan ketika kita ingin menilai suatu permasalahan itu baik atau buruk maka kita harus punya standar.
 
Jika standart kita untuk menilai kebaikan dan keburukan tersebut benar maka kesimpulan yang didapat maka akan benar pula.
begitu pula sebaliknya.
 
Jika standar yang kita pakai adalah akal kita, maka pastilah manusia memiliki cara berpikir yang berbeda-beda. Apa yang anda katakan salah adalah benar menurut saya, dan apa yang anda katakan benar itu salah menurut saya.
 
Allah subhanahu wata’ala cinta kepada manusia, supaya manusia tahu mana yang benar dan yang salah Allah beri tuntunan-tuntunan tersendiri yaitu dengan mengutus seorang rasul
 
Sebagai contoh dalam kehidupan kaum sodom, bagi mereka homoseksual itu biasa-biasa saja karena yang dijadikan standar bagi mereka adalah akal mereka.
Ketika kita kaitakan dengan musik, bagaimana hukumnya, maka yang berhak menentukan halal dan haram adalah Allah Subhanahu waTa’ala.
Ketika Allah menghalalkan suatu perkara maka ketahuilah bahwa itu pasti membawa faedah bagi manusia apalagi memerintahkan sesuatu maka pastilah jauh lebih besar faedahnya bagi manusia.
Ketika Allah mengharamkan sesuatu maka ketahuilah itu pasti membawa mudhorot bagi manusia.
 
Oleh karena itu yang berhak mengatakan musik itu halal atau haram adalah Allah Subhanahu waTa’ala.
 
yang kedua, Rasululloh shallallahu alaihi wasallam. Yang disebutkan oleh Allah Subhanahu waTa’ala.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى | إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
ٰdan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),
Maka banyak para ulama mengatakan bahwa sunnah/hadist rasulullah merupakan wahyu kedua setelah Al Qur’an.
Mari kita perhatikan komentar panutan kita yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebuah hadist yang diriwayatkan imam Bukhori:
لَـيَـكُوْنَـنَّ مِنْ أُمَّـتِـيْ أَقْوَامٌ يَـسْتَحِلُّوْنَ الْـحِرَ ، وَالْـحَرِيْرَ ، وَالْـخَمْرَ ، وَالْـمَعَازِف
‘Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr (minuman keras), dan alat-alat musik.
Rasululloh bersabda “akan ada yang menghalalkan” maka tandanya hukum asalnya adalah haram.
Yang kedua rasulullah menyebutkan alat-alat musik ini dibarengi dengan penyebutan perzinahan, sutera, dan khamr yang jelas-jelas keharamannya.
Ketika rasululloh menyandingkan hal tersebut dengan hal-hal yg haram maka tahulah kita bahwa hal itu adalah haram.
Kemudian riwayat lain Rasululloh Shalllallahu alaihi wasallam bersabda dari jabir Radiyallahuanhu :
إني لم أنه عن البكاء ولكني نهيت عن صوتين أحمقين فاجرين : صوت عند نغمة لهو ولعب ومزامير الشيطان وصوت عند مصيبة لطم وجوه وشق جيوب ورنة شيطان
“Aku tidak melarang kalian menangis. Namun, yang aku larang adalah dua suara yang bodoh dan maksiat; suara di saat nyanyian hiburan/kesenangan, permainan dan lagu-lagu setan, serta suara ketika terjadi musibah, menampar wajah, merobek baju, dan jeritan setan(suara ratapan).”
 
Dalam riwayat lain rasululloh bersabda :
إن الله حرم على أمتي الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين
Sesungguhnya Allah mengharamkan atas ummatku khamr, judi, mizra, gendang, dan qanin (alat musik berbentuk gitar).
 
 
Dalam Hadist yang lain:
 
لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ اُمَّتِى اْلخَمْرَ يُسَمُّوْنَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوْسِهِمْ بِاْلمَعَازِفِ وَ اْلمُغَنّيَاتِ، يَخْسِفُ اللهُ بِهِمُ اْلاَرْضَ وَ يَجْعَلُ مِنْهُمُ اْلقِرَدَةَ وَ اْلخَنَازِيْرَ. ابن ماجة 2: 1333، رقم:4020
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sungguh ada segolongan dari ummatku yang minum khamr yang mereka menamakannya bukan nama (asli)nya, kepala mereka disibukkan dengan musik dan biduanita. Allah akan menenggelamkan mereka ke dalam tanah dan merubah mereka menjadi kera dan babi”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1333, no. 4020]
 
Kemudian coba kita perhatikan musik selalu disandingkan dengan zina, khamr, judi, coba kita lihat ditegah-tengah masyarakat kita, ini selalu berbarengan, bahkan seburuknya café pasti ada musik yang keras, khamr, penyanyi wanita dan sebagainya.. Seperti itulah keburukan akan selalu bersanding dengan keburukan pula.
Oleh karena itu jika kembali kepada hadist-hadist tadi maka bagaimana mungkin musik itu dikatakan boleh, dan didalam islam musik itu hukumnya adalah haram.

Pertanyaan kepada bintang tamu :

Bang Ahmad ini sekarang apa hanya keluar dari grup atau apa memang total keluar dari musik ?

Bintang Tamu :

Duaduanya.. , keluar total dari grup dan musik juga dan engga lagi dengerin musik,..

Pertanyaan kepada bintang tamu :

Kok bisa nih bang, abang ngambil keputusan untuk keluar dari musik, padahal kan waktu itu kan abang dah banyak tuh penggemarnya..

Bintang Tamu :

Dulu.. Karena faktor engga tahu ya, ana berenti musik itu karena datang hujjah, waktu itu ada teman yang nyampein, ya karena itu datengnya berupa konteks hadist saya ga berani mbantah, tapi ya engga bisa juga langsung berhenti karena sudah mendarah daging dari kecil kita sudah dengerin musik..bahkan sampai tingkat aktifis.. Sampe pada satu titik ketika dateng hujjah, jadi masa sudah jelas-jelas haram kita tetap disitu, jadi ya gada jalan lain selain berhenti. Karna takut juga kan kalo ditanya sama Allah lo sudah tahu musik itu haram knapa masih dipegang juga.. Takutlah.. takut

Pertanyaan kepada bintang tamu :

Gimana bang rasanya setelah berhenti dari musik?

Bintang Tamu :

Yang jelas ga punya temen, ya setelah keluar dari band butuh proses juga,. Belum lagi mereka menjauh dan berlepas dirilah dari si madmor.. Tapi ternyata memang Alhmdulillah aktifitas dulu stelah keluar kita ngerasain nyaman, dari kita cintai musik jadi kita nyintai hal-hal kaya gini ya kumpul bareng orang yang katanya kolot lah celana cingkrang, jenggotan… tapi Allah ngasi kenyamanan ketika berada di majelis-majelis seprti ini.

Pertanyaan kepada bintang tamu :

Dulu waktu di grup pernah membawakan konsep dengan lirik-lirik islami, bener tuh bang?

Bintang tamu :

Yah emang dulu itu kejahilan yang jahil banget, kita ngerasa agamis, diantara temen grup band yang mereka mabok brutal gitu. Waktu itu ngga tau kalo yang hak dan batil itu ga bisa disatuin, Kita ingin berikan nuansa positiv, dengerin musik itu ga harus mabok, jadi ya gitu sok2an dakwah.. Kita bahkan ngambil lirik dari salah satu ayat, tapi ya yang dengerin dah engga punya rasa malu, ya loncat sana loncat sini..

Kesimpulan dari sebagian orang yang berdakwah lewat musik.
 
Bahwasannya dalam hati kecil manusia itu ingin baik, tentunya cara yang dia lakukan sesuai dengan cara dia berpikir, yang perlu kita ketahui itu sebuah konsep dakwah, dakwah adalah misi para rasul, misi orang-orang sholih, maka dari itu misi orang sholih tersebut harus dilakukan dengan cara yang sholih pula, memang sesuatu itu baik tetapi jika sesuatu itu baik maka cara yang digunakan juga harus baik, seorang yang berdakwah, maka dia memposisikan dirinya sebagai juru bicaranya Allah subhanahu wata’ala.
 
Orang yang mendapat hidayah merupakan kehendak Allah tapi Allah menjadaikan orang-orang tertentu menjadi perantara bagi orang yang mendapat hidayah. Bagaimana mungkin orang yang menjadi perantara hidayah sementara orang tersebut melakukan maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala, belum ada sejarahnya orang yang setelah mendengarkan musik dakwah lalu dia taubat dengan dakwah tersebut.
 
Seandainya itu bisa menjadi perantara maka tentulah para musisi-musisi dakwah menjadi orang yang pertama yang mendapat hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala.
 
Tadi kita perhatikan para musisi dakwah mendapat fans dan teman yang banyak namun setelah dia tinggalkan, teman-temannya menjadi sedikit, ini suatu hikmah bahwasannya manusia kalau dia baik dia tidak akan bisa berteman dekat dengan orang yang tidak baik.
Rasululloh bersabda
من ترك شيئاً لله عوضه الله خيراً منه
Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah.. maka Allah akan menggantikan itu semua dengan yang lebih baik..
 
Kita ambil contoh sejarah Nabi Yusuf yaitu ketika Nabi Yusuf seorang pemuda, digoda untuk bermaksiat oleh wanita paling cantik di negri tersebut dan diapun mencintai wanita tersebut, tidak ada seorangpun dalam ruangan tersebut dan semua pintu telah dikunci, namun Nabi Yusuf menolaknya, lalu Allah berikan ganti dengan menikahnya ia dengan wanita tersebut dan mendapatkan kecintaan penduduk Mesir.

Kemudian kisah Nabi Sulaiman yang merawat kuda-kuda yang amat ia sukai.

Lantas sangking senangnya Nabi Sulaiman terhadap kudanya hingga suatu hari melalaikan beliau dari berdzikir kepada Allah hingga matahari terbenam.

Dikarenakan hal tersebut nabi Sulaiman menyembelih kuda-kudanya tersebut karena telah melalaikannya dari berdzikir kepada Allah lantas Allah menggantikannya dengan yang lebih cepat yaitu kendaraan dari angin.

 

Ada ulama-ulama yg menghalalkan musik..mereka ini berdalil dengan apa, dan bagaimana kesimpulannya apakah kita boleh memilih pendapat mereka?
 
Ketika ada perbedaan pendapat diantara ulama, bagaimanakah sikap kita?
 
Apakah kita memilih-milihnya seperti waktu kita ujian, atau sesuai dengan selera kita, bukanlah seperti itu
 
Bahkan barang siapa yang memilih-milih pendapat ulama yang sesuai dengan seleranya. Maka dia sudah zindiq.
Kita lihat dalil yang dibawakan mereka, itu yang terpenting.
Ini masalah halal dan haram yang jaraknya bagai langit dan bumi, dan yang berhak menghalalkan adalah Allah subhanahu wataala.
Syaikh Albani berkata dalam kitab silsilah as shahihah
Bahwasannya para ulama 4 mazhab sepakat mengatakan bahwa semua alat-alat musik adalah haram..
 
Dan yang paling keras pendapatnya yaitu mazhab hanafiyyah.
Bahwasannya murid-murid beliau dengan sangat gamblang mengatakan semua alat-alat musik itu haram sampai memukul kayu juga gak boleh, dan itu semua maksiat , berarti orang fasik dan saksinya tidak diambil, dan lebih dahsyat mereka mengatakan, mendengarnya fasik dan berlezat-lezat dengan mendengarnya itu kafir.
Kemudian apa dasar ada ulama yang mengatakan itu halal?
 
1. Mereka mengatakan bahwa segala sesuatu pada asalnya hukumnya itu boleh.
Mereka mengambil dalil Firman Allah “Dialah Allah yang menciptakan semua yang ada dibumi untuk kalian..”. Termasuk alat-alat musik.
Dan mereka mengatakan tidak ada satu dalil pun dari Al Qur’an dan Sunnah yang jelas-jelas mengharamkan musik.
Mereka mengatakan hadist yang berkaitan dengan keharaman musik adalah dhaif, maka dari itu mereka mengatakan musik itu halal.
Mereka mengambil pendapat ibnu hazm yang mengatakan hadist tersebut dhaif.
Perlu kita ketahui yang meriwayatkan ini adalah imam Bukhori, imam bukhori tidak menyebutkan sanad dengan lengkap bukan karena dia terputus sanadnya , diantara maksud beliau adalah beliau tidak ingin mengulang-ulang penulisan riwayat yang sudah diketahui.. Bahkan imam al hafidz Ibnu Hajar rahimahulloh membuat suatu buku petutup sanad-sanad yang muallaq dalam hadist Bukhori, jadi hadist hadist yang tidak disebutkan secara lengkap maka dituliskan sanadnya secara lengkap oleh beliau, dan para ulama mengatakan bahwa hadist ini shahih dengan tidak ada sedikitpun keraguan padanya..
 
 
Kemudian yang membolehkan, mereka juga mengatakan memang hadist tersebut shahih tapi kalaupun shahih tapi tidak jelas pengharamannya.
“Ada yang menghalalkan”, padahal kalaulah kita memperhatikan menghalalkan yang haram maka hukumannya adalah kufur, dan seharusnya kalian katakan kufur.
 
Dan ada lagi yang menyatakan bahwasannya oklah dikatakan itu artinya yang menghalalkan berartikan haram, tapi kan ujungnya al ma’azif yang maknanya alat untuk bermain, tidak harus musik, padahal ada alat bermain yang dibolehkan oleh rasulloh shallallahu alaihi wasallam. Berartikan ga jelas pengharamannya.
 
Mereka mengatakan makna يَـسْتَحِلُّوْنَ ada dua :
Yang pertama yang menghalalkan yang haram berarti ini kufur, yang kedua dia yang menghalalkan berarti melakukan secara terus menerus ini menunjukkan bahwasannya sekali-sekali boleh.
 
Ini adalah penjelasan bagi orang yang mengatakan musik itu halal.
Pertama yang mengatakan halal karena hadistnya dhaif, kemudian istihlal itu belum jelas pengharamannya dan diartikanlah yang sering-sering menggunakan. Ini merupaka kekeliruan, yang dinamakan istihlal itu mereka menghalalkan bukan karena yang diyakini haram kemudian dihalalkan, akan tetapi dia mempunyai ta’wil-ta’wil/ penafsiran sendiri yang keliru hingga dia menghalalkan yang haram. Dan rasul mengatakan mutlak tidak membedakan antara sering dan yang tidak.
Alat musik ada yang halal seperti duf/rebana karena telah ada dasar pengecualiannya.
Yang dikatakan ma’azif adalah semua alat yang digunakan untuk bermain musik.
 
Tadi dikatakan bahwa hukum musik itu adalah haram, bagaimana halnya dengan lagu dan nyanyian apakah itu juga haram?
 
Kalau kita mengkaji, ada beberapa berbedaan diantara musik, lagu, syair, nasyid, dan sebagainya.
 
Nyanyian, sebenarnya kata nyanyian ada dalam hadist diriwayatkan dari imam muslim dari aisyah dia berkata : Ketika Abu bakar masuk rumah pada saat itu ada dua orang perempuan kecil mereka itu bernyanyi, kemudian Aisyah berkata sebenarnya mereka berdua bukanlah penyanyi, lantas Abu Bakar mengatakan, ini merupakan seruling setan yang masuk kerumah rasululloh. Maka rasululloh mengatakan wahai Abu Bakar biarkanlah, sungguh setiap ummat punya ied dan hari ini merupakan ied kita.
Yang diperhatikan disini adalah dibolehkan ketika ied dan isinya tidak mengandung hal-hal yang dilarang, dan mereka bukan penyanyi serta mereka itu anak kecil.
 
Yang kedua ada kisah seseorang bertanya kepada Imam Ahmad, wahai imam bagimana menurut anda tentang lagu, imam ahmad berkata seperti apa?, kemudian lelaki itu membacakan beberapa bait syair, “Apabila berkata kepadaku Rabku, kenapa engaku tidak malu mendurhakaiKu, engkau sembunyikan dosamu dihadapan makhluk dan engkau tampakkan dihadapanku”. Lantas Imam Ahmad mengatakan yang ini tidak haram. Imam Ahmad tidak mengingkari bahwa ini adalah lagu, berarti ada lagu yang tidak haram dan ada juga yang haram.
 
Bagaiman dengan hadist sebelumnnya bahwa Abu Bakar mengatakan ini adalah seruling setan yang masuk kerumah rasululloh. Mari kita mukoronahkan kepada hadist rasululloh yang lain. Bahwasannya rasululloh ketika mendengar Abu Musa Al As’ari membaca Al Qur’an dengan suara yang merdu, rasululloh mengatakan sungguh engkau abu musa telah mendapatkan anugrah berupa seruling sebagaimana seruling-serulingnya Nabi Daud.
Bukankah para sahabat ada yang mengucapkan syair-syair, dan diucapkan tidak pada saat ied, dan itu termasuk kategori lagu.
.
Lantas bagaimana, maka perhatikan beberapa perkara terkait dengan lagu yang dibolehkan akan tetapi bukan berarti ini dilakukan sehari hari, karena para sahabat tidak melakukannya sehari-hari,:
 
 
1. Tidaklah didalamnya menyebutkan tentang wanita, dsb
Juga tidak menceritakan tentang kecantikan para wanita.
Didalamnya tidak terdapat nada-nada yang dapat mengundang hawa nafsu.
 
2. Ketika dia diucapkan tujuannya bukanlah alunannya akan tetapi isi syairnya.
 
3. Tidak diiringi dengan alat musik selain rebana, dan bukan rebana yang ada kerincingnya.
 
4. Dan yang melagukannya adalah kaum wanita.
 
5. Tidak di dayu-dayukan.
 
6. Isinya untuk meningkatkan semangat.
 
 
Bagaimana hukum shalawat yang dinyanyikan, asmaul husna, nama-nama nabi, malaikat, dan sebagainya yang dinyanyikan ?
 
Perlu kita perhaikan ada syiar-syiar islam yang tidak boleh kita lagukan, akan tetapi ada beberapa ilmu-ilmu yang tidak ada kaitannya dengan syiar islam silahkan untuk dilagukan untuk membantu kita mengingatnya. Jadi ketika bersholawat maka ini merupakan bentuk syiar islam dan ini adalah do’a maka tidak boleh untuk dinyanyikan, begitu pula dengan asma’ul husna dan sebagainya.
 
 
Bagaimana dengan musik instrumental, apakah itu juga haram? Dizaman sekarang orang memakai benda-benda disekitar untuk dijadikan alat musik maka apakah hukumnya?.
 
Mengenai Instrument, tadi kita bicara alat musik, sementara suara musik tidak harus melalui alat musik. Perlu kita ketahui alat-alat musik itu pada asalnya benda-benda biasa, seperti gitar solo itu senarnya terbuat dari benang yang dipakai memancing, gamelan, itu juga tadinya besi biasa tapi ketika disusun jadilah ia ada nadanya. Seperti juga musik akapela, maka hal seperti ini termasuk dilarang.
 
 
Dari temen-temen yang hijrah, mereka kan punya alat musik yang dibeli harganya mahal lantas mereka bingung, mau diapakan benda-benda tersebut, apakah boleh dijual, atau bagaimana sebaiknya perlakuan kita?
 
Ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Imam Ahmad, Ada seseorang yang mendapatkan harta warisan dari ayahnya yang meninggal, salah satu warisannya berupa hamba sahaya yang pintar bernyanyi, ia berkata lantas bagaimana jika saya menjualnya, Imam Ahmad mengatakan kamu jual dia sebagai hamba sahaya tetapi tidak sebagai penyanyi.
 
Kalau kita kaitkan dengan kisah tadi, kalau kita bisa mengalih fungsikan menjadi benda lain yang berguna atau menjadikannya bagian-bagian yang bisa dijual tidak sebagai alat musik maka boleh. Akan tetapi jika dijual berupa alat musik atau masih bisa dikembalikan untuk menjadi alat musik maka itu tidak boleh.
Bagaimana hukumnya menjual kaset-kaset, kotak cd, kaos-kaos yang berhubungan dengan nama band dan sebagainya?
 
Allah berfirman:
ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَان
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. [al-Mâidah/5:2]
 
Kalau kita melihat kemungkaran maka hendaknya dia rubah dengan kekuasaannya, kalau tidak bisa dengan lisannya, kalau tidak bisa juga maka dengan hatinya.
 
Jikalau kita sudah membenci sesuatu maka pastilah kita menjauhkan simbol-simbol yang berkaitan dengan hal tersebut.
Sesi terakhir nasihat dari bang Ahmad kepada saudara-saudara kita yang masih mendengarkan musik.
Kita mengambil ibroh dari sebuah cerita sejarah bagaimana sebuah negara islam Granada, Andalusia yang hancur bukanlah karena orang-orang eropa, bukan juga perang salib, akan tetapi dari orang islam sendiri, keika seorang muslim bernama ziryab mengajarkan alat musik, kosmetik dan fashion dia mengajarkan hal tersebut sampai umat islam terlalaikan dari Al Qur’an dan kerajaan tersebut hancur karena hal tersebut. Kita bisa ambil ibroh bahwa musik itu bukan hanya berbahaya bagi diri kita tapi juga agama kita.
Dan bagi yang masih ragu ingin berhenti karen takut dijauhi ataupun dibilang ini itu oleh teman-temannya, InSyaAllah Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Dan buat temen2 yang masih bermain musik, saya cuma bisa bilang ya hidup ini kan ada batasnya ya terserah kita mau main musik sebanyak apapun tapi ntar semua akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.
Apakah dengan keharaman musik ini akan mematikan kreatifitas umat islam?
 
Bakat seseorang ada yang bawaan lahir dan ada yang diasah, Kalau kita memilih bakat hendaknya kita pilih bakat yang halal, jika memiliki bakat yang bagus hendaknya disalurkan pada hal-hal yang di anjurkan dalam islam seperti jika memiliki suara yang indah digunakan untuk membaca Al Qur’an.
 
Kemudian walaupun secara nash nasyid itu dibolehkan namun dengan batas-batas tertentu tidak setiap saat dilakukan, makanya tidak ada kita perhatikan para sahabat yang menyibukkan dirinya dengan nasyid-nasyid.