Kajian Online Medan

Ustadz Nuruddin Bukhori – Syarah Hadist Arbain Nawawi Hadist Ke 19

Syarah Arbain Nawawi Hadistke 19 bersama Ustadz Nuruddin Bukhori
 
dari Masjid Baiturrahman Unimed Medan Estate/Pancing Ahad 28 Rabi’ul Akhir 1437 H / 07.02.2016
 
 
 
الحديث التاسع عشر: عن أبي العباس عبدالله بن عباس رضي الله عنهما قال: كنت خلف النبي صلى الله عليه وسلم يوماً، فقال لي: “يا غلام، إنّي أعلمك كلماتٍ: احفظ الله يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك، إذا سألت فاسأل اللهَ، وإذا استعنت فاستعن بالله، واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على أن يضرّوك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحف”، رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح. وفي رواية غير الترمذي: “احفظ الله تجده أمامك، تعرّف إلى الله في الرخاء يعرفك في الشدة، واعلم أن ما أخطأك لم يكن ليصيبَك، وما أصابك لم يكن ليخطئَك، واعلم أن النصر مع الصبر، وأن الفَرَج مع الكرب، وأنّ مع العسر يسراً”.
 
Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Suatu hari (ketika) saya (dibonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di belakang (hewan tunggangan) Beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda kepadaku: “Wahai anak kecil, sungguh aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu, : “Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu , jika kamu meminta, maka mintalah (hanya) kepada Allah, dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa seluruh makhluk (di dunia ini), seandainya pun mereka bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) bagimu, dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) akan menimpamu, pena (penulisan takdir) telah diangkat dan lembaran-lembarannya telah kering.” HR At Tirmidzi (7/228-229 –Tuhfatul Ahwadzi), hadits no. 2516), disahihkan oleh Syaikh Al Albani), dan dia berkata: (hadits ini adalah) hadits hasan sahih.
 
 
 
Dalam Riwayat lain:
 
Jagalah Allah niscaya engkau mendapatinya selalu di hadapanmu kenalilah Allah disaat engkau dalam keadaan sulit, kenalilah Allah disaat engkau dalam keadaan mudah niscaya Allah akan mengenalimu disaat engkau dalam keadan sulit, ketahuilah sesungguhnya setiap sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah akan menimpamu maka niscaya itu akan menimpamu dan setiap sesuatu yang tidak Allah tetapkan menimpamu maka niscaya itu tidak akan pernah menimpamu. Ketahuilah bahwa pertolongan datang dengan kesabaran Dan sesungguhnya kelapangan selalu beriringan dengan kesempitan sesungguhnya setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan.
 
 
 
Biografi ringkas Abdullah bin abbas:
 
 
 
Beliau anak paman Nabi Shallallahu alaihi wasallam yaitu Abbas bin Abdul Mutholib. Beliau dilahirkan 3 tahun sebelum hijrah Nabi ke kota madinah disaat nabi dan keluarga beliau diboikot oleh orang-orang kafir quraysi.
 
 
 
Nabi telah mendoakan sahabat Abdullah bin Abbas, ketika beliau menginap di rumah bibinya Maimunah, istri rasulullah, Beliau berkata: maka ditengah malam aku siapkan bejana berisi air untuk rasululloh. Maka berkatalah bibiku : ya Rasululloh yang menyiapkan untuk wudhu engkau adalah Abdullah bin Abbas, Kemudian Rasululloh berdoa “ Ya Allah fahamkan dia akan ilmu agama dan ajarkan dia tafsir Al Quran”.
 
 
 
Beliau adalah orang yang memiliki kemampuan luar biasa akan ilmu, sampai tidak ada seorang pun yang belajar dari seorang ulama pun di zaman itu kecuali mereka dapati pada beliau ilmu yang sangat luar biasa. Beliau meninggal di kota thaif pada tahun 68H.
 
 
 
Kemuadian lanjutan dari hadist:
 
 
 
“Wahai anak sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu”. Yang dimaksud menjaga Allah adalah melakukan semua perintah Allah Subhanahu wata’ala dan meninggalkan semua laranganNya. Dan syurga Allah dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang yang menjaga hal ini.
 
Allah berfirman dalam surah Qaf Ayat 32
 
. هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ
Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).
 
 
 
Para ulama menjelaskan menjaga Allah dengan melakukan perintah dan meninggalkan larangan yaitu dengan dua tingkatan.
 
Wajib yaitu melakukan yang wajib dan meninggalkan yang haram.
Mustahab yaitu meninggalkan yang makruh dan mengerjakan yang sunnah.
 
 
Maka dari itu kita melakukan yang wajib dan berusaha menyempurnakan ibadah dengan melakukan yang sunnah.
 
 
 
Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan ketika manusia melakukan dua tingkatan dalam menjaga perintah Allah yaitu wajib dan sunnah maka manusia terbagi menjadi 3 tingkatan firman Allah dalam surah Fatir ayat 32.
 
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ
وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِير
 
artinya: “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya dirimerekasendiri, dan diantara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”
 
 
 
Imam Ibnu katsir menafsirkan ayat ini
 
Dzalimun li nafsihi adalah orang-orang yang meninggalkan sebagian kewajiban dan melakukan sebagian yang haram.
 
Muqtashid orang yang pertengahan yaitu orang yang hanya melakukan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Tapi disisi lain dia tinggalkan yang sunnah dan melakukan sebagian yang makruh.
 
Saabiqun bil khairat yaitu orang yang berusaha berlomba-lomba dalam melakukan hal yang berguna bagi kehidupan akhirat.
 
 
 
Dua hal yang ditekankan para ulama dalam syarah hadist ini yaitu Shalat dan Kemaluan.
 
Dan ini yang di isyaratkan Allah dalam surah Al Mu’minun :
 
(2). الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (1). قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
 
(5). وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
 
Sungguh sangat beruntunglah orang-orang yang beriman diantara sifat mereka adalah menjaga shalat mereka dan menjaga kemaluan mereka.
 
Menjaga shalat yang dimaksud adalah mengerjakan shalat tepat pada waktunya dan menjaga batasan-batasan syarat-syarat rukun-rukun dan kewajibannya.
 
Menjaga kemaluan dizaman dimana zina merajalela. Menjaga diri dari zina. Dan termasuk menyempurnakan penjagaan kemaluan adalah menjauhi segala perkara yang bisa menyebabkan kita terjatuh melakukan zina.
 
Kalau kita sudah menjaga hal ini maka Allah telah berjanji bahwa niscaya Allah akan menjaga kita baik urusan dunia kita maupun urusan agama dan akhirat kita.
 
 
 
Imam Ibnu rajab menukilkan kisah-kisah orang yang menjaga aturan-aturan Allah
 
Allah memberikan maslahat dunia yaitu diantarannya kisah yang terdapat dalam surah Al Kahfi yaitu dua orang anak yatim yang hidup di sebuah rumah yang hampir roboh yang ketika nabi Khidir Alaihis salam memperbaiki tembok rumahnya terdapat perbendaharaan harta peninggalan orang tuanya.
 
 
 
Imam ibnu katsir meriwayatkan dari riwayat israiliyat dua anak yatim ini adalah keturunan ke tujuh dari orang shaleh tersebut. Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya oleh Allah dan keberkahan ibadah yang dia lakukan akan dirasakan oleh keturunannya baik dunia maupun akhiratnya.
 
 
 
Yang kedua ada seorang ulama yang umurnya seratus tahun lebih sedangkan dia masih merasakan akal yang cerdas, pada suatu hari dia melompat dengan lompatan yang tinggi lalu orang-orang mencelanya, kemudian dia berkata ini anggota tubuh yang saya miliki saya jaga disaat saya muda, dan disaat ini Allah menjaga tubuh saya.
 
 
 
Yang ke tiga seorang pembantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tatkala dia berlayar, ditengah laut perahu yang dia naiki pecah dan ia kemudian terdampar di suatu pulau. Ketika itu dia berjumpa dengan seekor singa di hutan pedalaman pulau tersebut. Ia lalu berkata kepada singa tersebut aku adalah pembantu rasulullah maka ketika itu singa tersebut menujukkan jalan keluar dari hutan tersebut kemudian menggerakkan tubuhnya seperti menunjukkan salam perpisahan.
 
 
 
 
 
Kedua adalah penjagaan terhadap agamanya dan inilah yang sangat diharapkan dan yang paling mulia dari yang lainnya. Menjaga selama hidupnya tidak terjatuh kedalam syubhat yang menyesatkan , menjaga kemaluannya dari syahwat yang diharamkan, dan bahkan sampai dia mengucapkan syahadat ketika dia meninggal.
 
 
 
Dalam surah al anfal 24
 
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ
 
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.
 
 
 
Abdullah bin Abbas Radhiallahuanhu mentafsirkan ayat ini
 
Allah akan menghalangi sorang mukmin antara dia dengan maksiat sehingga kalau dia melakukan makksiat dia bisa terjatuh kedalam neraka.
 
Ini adalah karunia yang besar yang patut untuk disyukuri, abdullah bin masud melanjutkan.
 
Kadangkala seorang manusia menginginkan sesuatu dari dunia maka Allah liat hamba tersebut kemudia Allah berkata kepada malaikat palingkan hal itu dari dirinya karena kalau aku mudahkan hal itu baginya nanti dia bisa masuk neraka. Tapi hamba ini selalu merasa bernasib sial.
 
 
 
Maka apapun keadaan yang telah Allah subhanahu wata’ala tetapkan kepada kita yakinlah kalau itu adalah karunia dari Allah.
 
Hendaknya kita selalu berdoa agar Allah menjaga agama kita karena hati kita berada diantara jari jemari Allah dan Dia membalikkan sesuai dengan yang Dia kehendaki.
 
Berdoalah kepada Allah dengan doa “wahai dzat yang maha membolak balikkanhati teguhkanlah hatiku diatas agamamu”
 
 
 
Kemudian selanjutnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda “Jagalah Allah niscaya dengkau akan mendapatinya selalu berada dihadapan engkau”
 
 
 
Maknanya adalah Jagalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah maka Allah akan selalu bersama kita, membela kita, membimbing kita dan Allah selalu memberikan pertolongan kepada kita.
 
Sebagaimana kisah Nabi Musa dan Harun yang takut ketika diperintahkan Allah untuk menemui firaun akan tetapi Allah mengatakan bahwa Allah selalu bersama mereka.
 
Dan juga kisah kaum nabi Musa alaihis salam yang terjebak ketika dikejar-kejar oleh tentara firaun dan kemudian Allah menolong mereka dengan memerintahkan kepada Musa memukulkan tongkatnya ke laut.
 
 
 
Kemudia yang terakhir nabi mengatakan “Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan kalau meminta pertolongan minta
tolonglah kepada Allah”
 
Seperti yang kita ucapkan ketika kita shalat “Hanya kepada Engkauulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan”.
 
 
 
Meminta mestilah kepada Allah terkhusus bagi segala perbuatan yang tidak mampu dilakukan selain Allah.
 
 
 
Contohnya meminta untuk dilapangkan rezekinya jikalau permintaan ini ditujukan kepada selain Allah maka ini adalah kesyirikan.
 
 
 
Para ulama menjelaskan hukum asal meminta-minta kepada manusia adalah haram.
 
Dalam hadist dikatakan “Seseorang senantiasa meminta (harta) pada orang lain maka dia akan datang pada hari kiamat dengan wajah tanpa daging.” (HR. Bukhori dan Muslim)
 
 
 
Sebisa mungkin kita jauhi yang namanya meminta kepada manusia yaitu meminta untuk tujuan kepentingan kita pribadi. Maka jika meminta mintalah kepada Allah subhanahu wata’ala.