Kajian Online Medan

From the blog

hajar aswad

Hajar Aswad, Keyakinan, Sejarah dan Perjalanannya

Hampir bisa dipastikan tidak ada seorang muslim pun yang mengenal syariat islam yang tidak mengenal hajar aswad sebuah batu dari surga yang Allah kirim ke bumi yaitu di kota Makkah, melalui malaikatnya yang mulia Jibril alaihissalam.

Berikut adalah sedikit tulisan dan nukilan dari berbagai sumber mengenai hajar aswad, sejarah dan perjalanannya. Hanya kepada Allah semata kami memohon sebuah keikhlasan dan manfaat bagi tulisan dan nukilan ringkas ini.

 

  1. TURUNNYA HAJAR ASWAD DARI SURGA

Asal mula turunnya hajar aswad dimulai ketika Nabi Ibrahim ‘alaihi salam dan Ismail ‘alaihi salam diperintahkan Allah untuk membangun sebuah rumah atau yang kita sebut dengan Ka’bah. Allah berfirman dalam surat al-hajj ayat 26 :

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Artinya : Dan ingatlah ketika kami siapkan bagi Ibrahim tempat untuk rumah Allah dengan mengatakan janganlah kamu serikatkan Aku dengan sesuatupun dan sucikanlah rumahKu untuk orang-orang yang thowaf, berdiri sholat, rukuk dan sujud.

Syaikh Assa’di dalam tafsirnya menafsirkan ayat ini bahwasanya Allah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam untuk membangun rumah Allah yaitu ka’bah di Makkah dengan dasar taqwa dan seterusnya.

Riwayat lainnya tentang hal ini dari ibnu Jarir dan lainya dengan sanad hasan :

روى ابن جرير في تفسيره، والأزرقي في «أخبار مكة» بإسناد حسن، أن رجلا قام إلى علي فقال:

«ألا تخبرني عن البيت ؟ أهو أول بيت وضع في الأرض؟ فقال: لا ولكن هو أول بيت وضع فيه البركة، مقام إبراهيم، ومن دخله كان آمنا، وإن شئت أنبأتك كيف بني: إن الله أوحى إلى إبراهيم أن ابن لي بيتا في الأرض.

Artinya : bahwasanya seorang lelaki bertanya pada Ali agar beliau menceritakan tentang ka’bah. Apakah dia adalah rumah pertama kali yang diletakkan di bumi ? Maka Ali mengatakan “bukan akan tetapi dia adalah rumah yang pertama kali diletakkan didalamnya keberkahan, dan disisinya ada maqom Ibrahim ‘alaihi salam, barang siapa memasukinya maka dia aman, dan jika engkau mau akan aku kabarkan bagaimana ka’bah dibangun, ; sesungguhnya Allah mewahyukan pada Nabi Ibrahim ‘alaihi salam  untuk membangun rumah untukKu…” sampai akhir kisah.

Ringkasnya, Nabi Ibrahim ‘alaihi salam dan Ismail ‘alaihi salam ketika membangun ka’bah, kala itu beliau merasa ada sesuatu yang kurang dalam susunan batunya, sehingga akhirnya Jibril turun membawa hajar aswad, sebuah batu dari surga yang berwarna putih lebih putih dari susu sebagaimana diterangkan dalam hadits :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ»

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”. ( HR. Tirmidzi no. 877. Shahih menurut Syaikh Al Albani)

 

  1. HAJAR ASWAD DI MASA NABI SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM MUHAMMAD

Hajar aswad pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah dilepas dari ka’bah dikarenakan adanya renovasi ka’bah, beliau kala itu berusia 35 tahun atau 5 tahun sebelum beliau diangkat Allah sebagai Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Ketika mereka ingin meletakkan hajar aswad pada tempatnya, mereka berselisih tentang siapa yang mendapatkan kehormatan untuk meletakkannya sehingga akhirnya diputuskan agar yang menjadi hakim adalah orang yang pertama kali masuk masjid haram, hingga Allah mentakdirkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam Muhammad sebagai orang yang masuk ke masjid haram pertama kali, hingga mereka mengatakan “telah datang al-amin orang yang kami ridho sebagai hakim”. Akhirnya beliau meminta selendang besar untuk mengangkat hajar aswad, sehingga selendang itu bisa dipegang oleh seluruh pemuka kabilah dan hajar aswad bisa diletakkan pada tempatnya yang semula. Salah satu referensinya bisa di lihat di kitab (“الحجر الأسود”الموسوعة العربية الميسرة. موسوعة شبكة المعرفة الريفية. 1965. اطلع عليه بتاريخ تشرين الثاني 2013).

 

  1. HAJAR ASWAD BERKAITAN DENGAN AQIDAH DAN SYARIAT ISLAM

Didalam manasik haji, disunnahkan untuk mencium hajar aswad, atau jika tidak sanggup merabanya, jika tidak sanggup maka cukup dengan isyarat saja. Dari rukun atau sudut hajar aswad, thowaf seorang yang menjalani manasik haji atau umroh dimulai, dan berakhir di rukun hajar aswad juga setelah tujuh kali putaran.

Termasuk fadhilah mengusap rukun hajar aswad dan juga rukun yamani adalah menghapus dua dosa  sesuai dengan riwayat :

فعن عبد الله بن عمر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إن مسح الحجر الأسود والركن اليماني يحطان الخطايا حطاً»

Artinya : dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam “sesungguhnya mengusap hajar aswad dan rukun yamani keduanya akan menghapuskan kesalahan” ( ^ رواه أحمد عن ابن عمر (صحيح) حديث رقم: 2194 في صحيح الجامع)

Dalam satu riwayat lain, hajar aswad akan dikembalikan ke surga.

فروى عبد الله بن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: «والله ليبعثنه الله يوم القيامة له عينان يبصر بهما، ولسان ينطق به، يشهد على من استلمه بحق»

Artinya : diriwayatkan dari ibnu Abbas dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “demi Allah sungguh hajar aswad akan dibangkitkan di hari kiamat, dia mempunyai dua mata yang melihat dengan keduanya dan lisan yang berbicara denganya, dia akan bersaksi bagi orang yang mengusapnya dengan haq”.

Yaitu dengan haq adalah sesuai dengan tuntunan dan keyakinan yang diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Hajar aswad hanyalah batu dari surga yang tidak bisa memberi manfaat dan mudhorot sehingga jangan sampai seorang muslim mengkultuskanya.  Didalam hadits bukhari no 1520 diriwayatkan :

حدثنا محمد بن كثير أخبرنا سفيان عن الأعمش عن إبراهيم عن عابس بن ربيعة عن عمر رضي الله عنه أنه جاء إلى الحجر الأسود فقبله فقال إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك

Dari Umar radhiallahu ‘anhu bahwasanya beliau mendatangi hajar aswad lalu menciumnya dan mengatakan “sesungguhnya aku mengetahui bahwasanya engkau hanyalah batu tidak dapat memudhorotkan dan tidak memberi manfaat, kalaulah aku tidak melihat Nabi shalallahu alaihi wasallam menciummu pasti aku tidak akan menciummu.”

 

  1. HAJAR ASWAD DALAM PERJALANAN SEJARAH
    • AWAL MULA PEMBUNGKUSAN HAJAR ASWAD DENGAN LOGAM

Pada masa gejolak perebutan kekhalifahan antara Abdullah bin Zubair dan Yazid bin Muawiyah, ka’bah sempat terkena lemparan manjanik (sejenis ketapel besar) sehingga sebahagianya runtuh, lalu Abdullah bin Zubair berinisiatif untuk mengikatnya dengan logam sejenis perak pada tahun 63 hijriyah.

  • PENCURIAN HAJAR ASWAD OLEH SEKTE QOROMITHOH

Tepatnya ditahun 317H sekte Qoromithoh telah mencongkel hajar aswad dari ka’bah bertepatan pada hari tarwiyyah musim haji dan membunuh puluhan ribu jamaah haji, hingga kala itu amir Makkah menawarkan pada mereka semua hartanya agar hajar aswad dikembalikan pada tempatnya, akan tetapi mereka tidak menggubris himbauan itu bahkan akhirnya mereka membunuh amir Makkah dan mengambil seluruh hartanya.

Sehingga sampai 22 tahun kemudian tepatnya tahun 339H kaum muslimin baru bisa mengembalikan hajar aswad ke Makkah dalam keadaan sudah terpecah sekitar 30 bagian. Atsar ini ada dalam kitab albidayah wannihayah karangan al-imam ibnu Katsir rahimahullah.

Setelah kejadian itu hajar aswad juga masih mengalami beberapa kali percobaan pencurian dan perusakan ditahun 500 an H dan 900an H tapi pelaku dapat digagalkan ditangkap dan dibunuh.

 

Medan, 9 November 2016
Oleh : Bagus W abu abdidayyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *