Kajian Online Medan

Ustadz Nuruddin Bukhori – Syarah Hadist Arbain Nawawi Hadist Ke 17-18

  • Syarah Arbain Nawawi Hadist ke 17-18

    1

Syarah Arbain Nawawi Hadistke 17 -18 bersama Ustadz Nuruddin Bukhori dari Masjid Baiturrahman Unimed Medan Estate/Pancing Ahad 09 Rabi’ul Awwal 1437 H / 23.12.2015

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
 إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ
 وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ .
[رواه مسلم]
Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan (berbuat baik) terhadap segala sesuatu. Karena itu, jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik, jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya salah seorang dari kalian menajamkan goloknya dan melegakan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Faidah dari Hadist ini diantaranya adalah :

1. Allah menetapkan maknanya bisa juga berarti mewajibkan berbuat ihsan kepada segala sesuatu.

2. Makna ihsan dalam bahasa arab adalah yang pertama memberikan manfaat dan kebaikan bagi orang lain, yang kedua yaitu melakukan sesuatu dengan baik atau penuh kesempurnaan padanya.

Para ulama mengatakan dalam dua makna yang dimiliki oleh lafadz al ihsan ini, maka ihsan itu berbeda dalam beberapa             bentuknya, contoh, dalam melakukan sesuatu dengan baik dan sempurna ini dikaitkan dengan hak Allah, kita beribadah dengan melakukan ibadah tersebut sesempurna mungkin. Ihsan dalam agama ada hukumnya wajib dan ada yang mustahab, contoh kita diperintahkan untuk ihsan dalam sholat, pertanyaannya apa hukum seseorang mengangkat kedua tangannya tatkala takbirotul ihrom, hukumnya sunnah, akan tetapi ucapan Allahu Akbar hukumnya wajib. Maka dari itu ihsan dalam ibadah ada yang hukumnya sunnah dan ada yang wajib tergantung kedudukannya didalam sholat. Ihsan dalam hak Allah adalah melakukan apa yang diperintahkan Allah sebaik mungkin dan meninggalkan larangannya sesempurna mungkin.

3. Berbuat Ihsan kepada sesama manusia. Urutan berbuat ihsan yang diperintahkan dalam masalah akhlak kepada manusia yaitu:

  • Berbuat ihsan kepada Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam.

Banyak hal terkait adab terhadap rasululloh sallallahu ‘alaihi wasallam diantaranya :

– Jangan mendahului aturan dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam.

– Patuh kepada apa yang diperintahkannya dan juga apa yang dilarangnya.

– Mempercayai perkataannya.

– Membenarkan berita darinya.

  • Berbuat ihsan kepada kedua orang tua,

Berbuat baik kepada orang tua ini dikembalikan kepada kebiasaan/ adat selama tidak melanggar aturan agama.

  • Berbuat ihsan kepada saudara kita sesama muslim.

Berbuat baik kepada saudara kita ketika dia berbuat baik kepada kita ataupun berbuat buruk kepada kita. Berbuat baik kepada               saudara kita ketika dia berbuat maksiat yaitu dengan menasihatinya.

  • Berbuat ihsan kepada para Ulama

Bersikap baik pada orang-orang yang berilmu, ini dicontohkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam, terdapat dalam hadist

Dari Ubadah bin ash-Shamit bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِى مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَ يَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

“Tidak termasuk umatku orang-orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dari kami, menyayangi yang lebih muda dari kami, dan tidak mengetahui hak seorang ulama”. [HR Ahmad: V/ 323 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].

  • Berbuat ihsan kepada penguasa.

4. Ihsan dalam hal berbicara, Allah perintahkan kepada kita berbicara secara ihsan.

5. Ihsan terhadap orang yang berbuat buruk kepada kita, kita diperintahkan membalasnya dengan kebaikan. Allah berfirman.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik,” (QS. Fushilat: 34)

 

6. Berbuat ihsan kepada binatang.

Agama ini merupakan agama yang sempurna yang datang dari Allah Tabarok wa Ta’alla yang memerintahkan berbuat baik bahkan kepada binatang sekalipun. Ini terdapat pada hadist

Dari Abu Hurairah radiallahuanhu. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Pada suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan di suatu jalan, ia sangat kehausan, lalu ia menemukan sebuah sumur, kemudian turun di dalamnya lalu minum. Setelah itu iapun keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing mengulur-ulurkan lidahnya sambil makan tanah karena hausnya, Orang itu berkata dalam hati; Sungguh anjing ini telah kehausan sebagaimana yang saya alami tadi. lapun turun lagi ke dalam sumur lalu memenuhi sepatu khufnya dengan air, kemudian memegang sepatu itu pada mulutnya, sehingga ia keluar dari sumur tadi, terus memberi minum pada anjing tersebut. Allah berterima kasih pada orang tadi dan memberikan pengampunan padanya.

Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah sebenarnya kita juga memperoleh pahala dengan sebab memberi makan minum pada binatang?Beliau menjawab:

Dalam setiap makhluk yang memiliki hati yang basah ada pahalanya.

(Muttafaq ‘alaih)

 

Bahkan dengan anjing sekalipun, yang dimana kita tahu anjing adalah makhluk yang najisnya paling berat, jika kita berbuat baik kepadanya maka bisa saja balasannya besar disisi Allah.

Begitu juga dalam hal membunuh binatang atau menyembelihnya, kita diperintahkan untuk berbuat yang terbaik. Sebagai contoh jika kita membunuh seekor cicak dengan sekali pukul, dua kali, atau tiga kali, ini berbeda pahalanya disisi Allah.

Salah satu adab dalam menyembelih adalah tidak menyembelih seperti menggergaji, akan tetapi menarik pisau dari bawah ke atas.

Allah berfirman, “Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah:195)

 

Hadist ke 18

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
 عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
 اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “
[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]
Dari Abu Dzar bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu’anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih. Hasan dikeluarkan oleh At Tirmidzi di dalam [Al Bir Wash Shilah/1987] dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Al Misykat [5083])

Sekilas tentang Abu Dzar, Jundub bin Junadah Radiallahuanhu.

Abu Dzar adalah sahabat yang terkenal, dan salah satu metode dalam mendidik anak yang dilakukan generasi terdahulu adalah dengan menceritakan kisah-kisah generasi salafus shalih yang terdahulu.

Ibnu Abbas menceritakan perihal Abu Dzar, dia mengatakan bahwa dia bersal dari suku al Ghifari,

Kisah keislaman Abu Dzar, ketika Abu Dzar mendengar perihal seorang yang mengaku nabi yang berada di kota Mekkah, rasa penasarannya membuatnya tergerak untuk berjupa dengannya, hingga dia sampai di Makkah dan tinggal selama 30 hari tanpa makan dan hanya meminum air zamzam saja. Hingga bertemu dengan Ali bin abi Thalib dan kemudian mengantarkannya kepada Rasululloh Sallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah Abu Dzar memeluk Islam, Rasululloh memerintahkan kepadanya untuk kembali kekampungnya, dengan menyembunyikan keislamannya, akan tetapi Abu Dzar bersikeras megumumkan keislamannya yang pada akhirnya dia di siksa oleh orang-orang kuraisy berkali-kali akan tetapi tidak menyerah hingga dia diselamatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib radiallahuanhu. Sahabat Abu Dzar meninggal pada tahun 32H di Ar-Rabadzah.

 

Kisah singkat Mu’adz Bin Jabal Radiallahuanhu

Abu Adurrahman Mu’adz bin Jabal meninggal sekitar umur 36 tahun pada tahun 18H dikarenakan wabah thaun, sahabat yang sangat muda akan tetapi merupakan pimpinan para ulama, beliau dikirim oleh Rasululloh untuk berdakwah ke negri Yaman pada umur 18 tahun. Beliau juga termasuk salah satu diantara 4 orang sahabat yang terdepan dalam keilmuannya.

 

Bersambung In Syaa Allah..