Kajian Online Medan

Jalan-jalan yang Dapat Mendatangkan Rezeki

“Jalan-jalan yang Dapat Mendatangkan Rezeki”

Kajian Umum Bersama Ustadz Arif, Lc (Alumni Ma’had Imam Asy Syafi’i Jember)

Dari Masjid Baiturrahman Komplek Kampus Unimed Jl. Williem Iskandar, Medan Estate/Pancing

Ahad 16 Rabi’ul Awwal 1437 H./ 27 Des 2015.

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa semua orang berlomba-lomba untuk mencari rezeki, tenaga, waktu, profesi, atupun keahlian lainnya digunakan untuk mendapatkan sedikit dari puing-puing dunia, ada yang menjadi pedagang, buruh, petani dan sebagainya. Perlu diketahui Islam tidak pernah melarang kita mencari rizki bahkan Islam juga tidak melarang kita untuk menjadi orang kaya, akan tetapi islam melarang kita untuk mencari rezeki tersebut dengan cara yang tidak benar (haram) dan melarang kita tertipu dengan dunia. Allah berfirman :

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77).

Namun kita melihat zaman sekarang ini ada sebagian kaum muslimin yang berlebihan dalam mencari rezeki, hingga melalaikan dirinya dari beribada kepada Allah Subhanahu waTa’ala. Dan kita jangan pesimis dalam mencari rezeki karena Allah Subhanahu waTa’ala sudah menetapkan rezeki kita 50ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.

Adapun jalan yang dapat mendatangkan rizki ada dua yaitu secara hishiyah dan maknawiyyah.

Hishiyah yaitu seperti bekerja dan sebagainya. Adapun Secara Maknawiyyah dalam hal mendatangkan rezeki adalah diantaranya :

  1. Memperbanyak Istighfar

Memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang dahulu pernah dilakukan, mengingat-ingat kembali apakah sekiranya ada dosa yang dilakukan kemudian memohon ampun atasnya. Kisah sufyan Ats Tsauri yang pernah mengalami kebangkrutan bahkan dipenjara, kemudian beliau mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang pernah dia lakukan pada masa dahulu,lalu dia mengingat dosanya dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu waTa’ala.

Ada seseorang yang mengadu kepada Syaikh Bin Baz Rahimahullah, bahwasannya dia sudah menikah selama 7 tahun dan belum dikaruniai anak, maka Syaikh tidak mengatakan apapun selain “perbanyaklah Istighfar kepada Allah”, kemudian orang itu datang lagi setelah beberapa waktu dan mengatakan bahwa dia sekarang telah mempunyai anak.

Allah berfirman dalam surah Nuh :

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًاوَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

” maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. ” ( Qs Nuh : 10-12 )

  1. Bertakwa kepada Allah Subhanahu waTa’ala

Kita beribadah mengharapkan wajah Allah Azza waJalla, berdasarkan bimbingan dari Allah. Bertakwa kepada Allah dimanapun kita berada, meskipun dalam keadaan bersendirian. Dan Ibadah yang dilakukan secara menyendiri adalah sebab yang paling agung dalam meneguhkan keimanan kita kepada Allah Subhanahu waTa’ala.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 Dan Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Surat Al-A’raaf : 96)

dan di dalam firman Allah Surah At Tholaq,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

 

  1. Meluangkan waktu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa (Thaha:132)

Dan berpaling dari perintah Allah maka dia akan mendapatkan yang sebaliknya. Firman Allah dalam surah Thaha:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةًۭ ضَنكًا

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, (Thaha :124)

Ada orang yang memiliki harta kekayaan akan tetapi kehidupannya sempit, dia tidak bisa menikmati kekayaannya, akan tetapi ada pula orang yang hidupnya pas-pasan tetapi kehidupannya tentram.

Nabi bersabada:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang haqiqi adalah kaya jiwa (hati)” (HR.  Al-Bukhari no 6446 dan Muslim no 1050)

Dalam hadit yang lain nabi bersabda

dalam Hadist Qudsi

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Rab kalian berfirman : wahai anak adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepadaKu, maka Aku akan mengisi hatimu dengan kekayaan. Dan Aku akan mengisi tanganmu (dengan usahamu) dengan rizki.

wahai anak adam, Janganlah engkau jauh dariKu sehingga Aku memenuhi hatimu dengan kemiskinan, dan Aku menjadikan engkau senantiasa sibuk dengan pekerjaanmu. (Shahih riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrok Hadist No.7926) 

dalam riwayat lain Rasulullah bersabda: “Jika seandainya anak adam memiliki satu bukit gunung emas, maka dia akan berangan-angan akan memiliki dua gunung emas, dan tidak ada satupun yang dapat memenuhi keinginan anak adam kecuali tanah.(kematian)”.

Imam Ibnu katsir mengatakan,

“Ketika kita menjaga Hak-hak Allah Subhanahu waTa’ala maka Allah juga akan menjaga hak-hak kita”.

 

  1. Menyambung tali silaturrahmi.

Silaturrahim adalah menyambung tali persaudaraan walaupun bukan kita yang memutuskannya, dan yang paling utama adalah kepada kedua ibu bapak, dan saudara kandung dan selanjutnya. Dan yang dimaksud Ar Rahim menurut para ulama adalah “Yang engkau dan dia memiliki nasab yang bersambung”

Diantara bentuk menyambung silaturrahmi adalah:

– Berziarah atau berkunjung kerumah kerabat, atau menelponnya.

– Berbincang-bincang dengan kerabat.

– Memberikan Hadiah dan sebagainya kepada saudara.

– Bertutur kata yang baik kepadanya.

– Memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran yang ada di keluarga kita.

 

  1. Ber’infaq di jalan Allah Subhanahu waTa’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. ( Al-Baqarah: 261).

6. Berinfaq kepada penuntut ilmu.

Dalam Sunan At-Tirmidzi dikisahkan,

كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِى النَّبِيَّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلىَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ

“Ada dua orang bersaudara di zaman Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam,yang satu datang kepada Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam (untuk belajar), sedangkan yang satunya lagi bekerja (menanggung nafkah saudaranya, pent). Maka orang yang bekerja ini mengeluhkan kepada Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam tentang saudaranya. Beliau pun bersabda, “Bisa jadi kamu diberi rezeki karenanya (ia menuntut ilmu agama).

7. Berbuat baik kepada orang-orang yang lemah lagi miskin papa.

Nabi bersabda,

إِنما ينصُر الله هذه الأمةَ بضعيفها: بدعوتِهم، وصلاتِهم، وإِخلاصهم

Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan sebab orang-orang yang lemah dari mereka, yaitu dengan doa, sholat dan keikhlasan mereka.

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ

Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Carikan untukku orang-orang yang lemah, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong (dimenangkan) dengan sebab orang-orang yang lemah (di antara) kalian”.