Kajian Online Medan

Ustadz Nuruddin Bukhori – Syarah Hadist Arbain Nawawi Hadist Ke 15-16

  • Syarah Hadist Arba'in Nawawi Hadist ke 15-16

    1

Syarah Hadist Arbain Nawawi Hadist Ke 15-16 Bersama Ustadz Nuruddin Bukhori, dari Masjid Baiturrahman Unimed Medan Estate/Pancing Ahad 24 Shafar 1437 H / 6.12.2015

Hadist Ke 15.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tamunya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Faedah dari hadist ini diantaranya adalah,

1. Tidak ada yang mendorong seseorang untuk istiqomah dalam beramal sholih selain karena dia beriman kepada Allah dan hari akhirat.

2. Berbicara yang baik selagi mampu atau diam jika tidak mampu, selama diamnya tersebut tidak menimbulkan maksiat.
Yang dikatakan kebaikan yaitu terdapat dalam Surah an Nisa Ayat 114

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

3. Perintah untuk menjaga lisan kita. Karena lisan juga merupakan hak Allah Azza wa Jalla.
Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu mengatakan, Tidak ada sesuatu yang berhak dipenjarakan kecuali lisan.

4. Memuliakan tetangga secara umum yaitu berbuat baik kepada tetangga diantaranya selalu memberi hadiah, mengucapkan salam, berwajah ceria, membantunya dikala dia membutuhkan, dan sebagainya serta tidak berbuat buruk terhadapnya.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (HR al-Bukhari)

5. Kewajiban untuk memuliakan tamu diantaranya seperti berwajah ceria, memberikan jamuan makanan yang baik sesuai dengan kemampuan, memberikan penginapan jika dibutuhkan, berbicara dengan pembicaraan yang baik, dan sebagainya. Memuliakan tamu adalah Sunnah para Nabi.

Hadist Ke 16.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi, “Berilah aku wasiat.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah engkau marah.” Beliau mengulang sabdanya beberapa kali, beliau tetap bersabda, “Janganlah engkau marah.” (Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari)

Marah yang tercela adalah marah yang penyebabnya hanyalah karena perkara dunia. Dalam istilah syariat orang yang paling kuat bukanlah orang yang mampu mengangkat beban yang berat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya.

Permusuhan, pembunuhan, perkataan tidak baik, dan sebagainya muncul karena amarah.

Marah yang terpuji adalah marah yang didasari karena Allah dan Syari’atnya. Contohnya anak kita tidak mau sholat maka kita marah, maka marah ini merupakan marah yang terpuji.

Daram Alqur’an terdapat kisah bahwa Nabi Musa alaihi salam marah kepada kaumnya dan melemparkan lauh2 taurat tatkala kaumnya kembali menyembah patung anak sapi pada saat beliau tidak berada bersama kaumnya.

Jika kita terserang amarah maka hal yang bisa kita lakukan diantaranya:
1. Mengucapkan taawuz
2. Jika berdiri, kita duduk, jika masih belum hilang amarah tersebut maka berbaring.

Perkara yang paling penting adalah menjauhkan diri kita dari segala sesuatu yang menyebabkan diri kita marah. Karena marah adalah penyebab terjadinya banyak keburukan kepada diri kita. Akan tetapi marah itu menjadi terpuji jika ditujukan kepada celaan terhadap Allah dan Syari’at Islam.